Hilangnya Sebuah Gagasan dalam Gudang Ilmu

disrupsi pendidikan

Hilangnya Sebuah Gagasan dalam Gudang Ilmu – Sahabat Litera Institute (LI), pasti kita sudah banyak mendengar istilah asing ini. DISRUPSI. Mungkin juga telinga kita gatal mendengar istilah yang terkesan baru bagi telinga kita itu. Namun, jika kita pahami maknanya, ternyata DISRUPSI itu “barang lama”. Barang seken, alias bukan barang baru.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, disrupsi didefinisikan hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah sedang terjadi perubahan fundamental atau mendasar. Yaitu evolusi teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia.

Sebenarnya tak perlu panik jika sudah memahami maknanya. “Tercabut dari akarnya” bisa kita maknai sebagai keluar atau menyimpang dari FITRAH-nya. FITRAH anak-anak kita.

Perubahannya sangat cepat. Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif kreatif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat hingga pendidikan.

Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah. Inovasi atau Mati, kata Gde Prama, penulis buku best seller “INOVASI ATAU MATI”. Tidak diragukan lagi disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi sistem pendidikan. Munculnya inovasi aplikasi teknologi seperti Uber atau Gojek, Grab dan lain-lain akan menginspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang pendidikan.

Kegiatan belajar mengajar akan berubah total. Ruang kelas mengalami evolusi dengan pola pembelajaran digital yang memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kreatif, partisipatif, beragam dan menyeluruh.

Fungsi guru atau pendidik pada era digital ini berbeda dibandingkan guru masa lalu. Kini guru tidak mungkin mampu bersaing dengan mesin dalam hal melaksanakan pekerjaan hafalan, hitungan, hingga pencarian sumber informasi. Mesin jauh lebih cerdas, berpengetahuan dan efektif dibandingkan kita karena mesin tidak pernah lelah melaksanakan tugas.

Karena itu fungsi pendidik bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, karakter, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itu yang tidak dapat diajarkan oleh mesin. Pertanyaannya adalah, apakah para pendidik kita saat ini telah disiapkan untuk menghadapi perubahan peran ini?

Hal ini bukan hanya persoalan mengganti kelas tatap muka konvensional menjadi kelas dunia maya. Namun yang lebih penting adalah revolusi peran pendidik sebagai sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, bahkan inspirator dalam mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter serta team work para generasi muda yang dibutuhkan pada masa depan.

Disrupsi sering dianggap ancaman tanpa kita sadari bahwa teknologi telah mengubah banyak hal. Perubahan akibat teknologi ini tengah terjadi serempak di seluruh dunia, mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia seperti pendidikan dan gaya hidup sampai model kepemimpinan.

Lalu, bagaimana sikap kita? Ikuti “permainannya”, begitu kata guru besar Agronomi saya di IPB Bogor suatu hari. Maknanya adalah kita tak perlu panik agar pikiran tetap jernih, karena kita sudah yakin sejak awal bahwa anak-anak kita sudah ter-install akhlaq yang baik dalam jiwanya. Jadi dalam mengikuti “permainan disrupsi” setiap pemain harus tau aturan permainan dan strategi menghadapinya.

Sebagai ilustrasi, lahirnya pemikiran dan implementasi “Revolusi Hijau” di era tahun 1980-an adalah bukti nyata bahwa teknologi dunia mempengaruhi cara kita berpikir tentang Swasembada Pangan. Alhasil, kita pernah meraih predikat itu di era kepemimpinan Soeharto dan menjadi kiblat pengembangan teknologi pertanian regional dan internasional.

Prinsip “Revolusi Hijau” sebenarnya sederhana, kami melihat teknologi bukan sebagai penguasaan antariksa atau bom nuklir. “Revolusi Hijau” lahir dari pemikiran sederhana yang melihat jauh kedepan dengan cepat, yaitu teknologi “Jarak Tanam”.

Kita berhasil berswasembada beras hanya karena merubah pola jarak tanam dan tanam bergilir antara padi dan palawija. Yup, tampak sesederhana itu. Tetapi pemikiran di balik itu semua adalah pemikiran yang benar-benar inspiratif, inovatif, kreatif serta mempertimbangkan perubahan era yang begitu cepat. Dan sekarang diberi istilah DISRUPSI. Kami tidak mengenal nama itu sebelumnya, tetapi sudah mengalami di era 1980-an.

Pertanyaannya adalah: “Bagaimana strategi kita menyiapkan anak-anak kita agar tidak menjadi seperti anak baru bangun tidur dan bertanya pada bapaknya, apa yang sedang terjadi?”

Menjawab pertanyaan yang mencerminkan kebingungan semacam “apa yang sedang terjadi” adalah dengan cara melibatkan langsung anak-anak ini ke dalam pemikiran inovatif dan kreatif. Syukur-syukur bisa menjadi inspirasi banyak orang. Tak ada cara lain, anak-anak ini harus dibiasakan dan ditumbuh kembangkan dalam lingkungan yang terbiasa berpikir. Bukankah Islam mengajarkan:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Al-Mujaadilah: 11)

Setidaknya, ayat suci itu bisa kita jadikan motivasi dan inspirasi agar anak-anak kita senantiasa berilmu. Tidak harus “know it all” tapi lebih kepada “learn them all”. Jadi meski era DISRUPSI adalah “barang bekas” namun pemahaman dan persiapan anak-anak kita menghadapinya membutuhkan pendekatan baru yang disebut revolusi peran pendidik.

Dan setidaknya (lagi), Litera Institute sudah memulai satu langkah penting mempersiapkan civitas academica-nya menata kecerdasan IQ, EQ, SQ dan AQ melalui kegiatan Kelas Islamic Math Adventure Online.

Apa tujuan program Islamic Math Adventure di Litera Institute? Apakah masih saudaranya DISRUPSI? Atau hanya bahasa keren-kerenan, gagah-gagahan semata? Kalau jawaban pertanyaan pertama bisa saya jelaskan dengan singkat dan padat, yaitu agar anak-anak kita tidak kehabisan gagasan di gudang ilmu. Istilah kerennya di masa era “Revolusi Hijau” dulu: jangan sampai mati di lumbung padi. Tetapi, untuk pertanyaan kedua dan ketiga, biar waktu yang menjawabnya.

Wallahu a’lam bish-shawabi

Al-Faqir Ila Allah | Bekti Hermawan

Tinggalkan Balasan

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

TENTANG PENULIS

INFO LITERA

KELAS IMA ONLINE

×

Cart